Jika kita mempertimbangkan upaya menjaga lingkungan dari limbah domestik dengan berbagai mekanisme pengolahannya, rasanya hal ini seharusnya bukanlah prioritas utama dalam usaha menjaga lingkungan dari limbah domestik.
Sebab yang paling penting yang harus diperbaiki bukanlah bagaimana cara mengolah limbah, melainkan bagaimana kita sebagai manusia dapat memiliki etika terhadap lingkungan. Etika terwujud melalui langkah-langkah baik dalam menjaga lingkungan.
Sebenarnya, kita hanya perlu melakukan hal-hal sederhana dalam menjaga lingkungan. Tidak perlu biaya besar, tidak perlu usaha yang berlebihan, cukup sederhana. Bagaimana kita menciptakan sebuah kebiasaan yang akan membentuk norma baik bagi peradaban kita.
Hal ini penting, karena alih-alih menjadi kebaikan bagi kita, bonus demografi di tahun 2045 justru akan menjadi ancaman yang nyata jika etika terhadap lingkungan tidak tertanam dengan baik.
Saya berpendapat bahwa pemerintah sebenarnya sudah cukup baik dalam menggalakkan etika terhadap lingkungan dengan penanganan sampah yang baik.
Sayangnya, kegiatan tersebut kadang hanya menjadi kegiatan musiman. Jika kita terus mengandalkan dan berfokus hanya pada cara-cara mengolah limbah domestik, maka sepuluh, seratus, bahkan seribu "pandawara" yang hadir tidak akan memberikan manfaat bagi lingkungan dalam jangka panjang.
Sampah akan tetap bertumpuk, berserakan di mana-mana, dan lingkungan akan tetap menjadi kotor dan kumuh, yang pada akhirnya akan menjadi limbah yang mencemari lingkungan.
Awali dari Keluarga
Salah satu pelajaran hidup yang telah saya sampaikan kepada anak-anak saya adalah tentang bagaimana memiliki etika terhadap lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan.
Mengapa hal ini begitu penting? Berdasarkan data dari dataindonesia.id yang diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sampah rumah tangga menjadi sumber terbesar sampah di Indonesia pada tahun 2021, mencapai 42,23% dari total 21,88 juta ton sampah.
Ini mengindikasikan bahwa penekanan untuk menjaga lingkungan dari limbah domestik seharusnya dimulai dari keluarga. Bagaimana kita bisa menyadarkan dan membentuk konsep bahwa lingkungan adalah hal yang harus dijaga dengan baik.
Keluarga perlu memegang teguh prinsip-prinsip ini, dan bagi orang tua, mengajarkan hal ini kepada anak-anak adalah suatu kewajiban.
Dari pengalaman saya sebagai anak dan sekarang sebagai kepala keluarga, edukasi tentang cara menjaga lingkungan dari limbah domestik masih kurang dan tidak optimal.
Baik dalam skala keluarga, dengan orang tua yang memberikan pendidikan tentang lingkungan dan sampah kepada anak-anak, maupun melalui sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat secara langsung.
Saya sengaja membandingkan dua periode waktu yang berbeda, yakni era 90-an saat saya masih anak-anak dan kondisi sekarang, untuk melihat apakah ada perbedaan antara keduanya.
Meskipun ada penekanan edukasi tentang lingkungan dan sampah domestik, itu hanya terjadi secara sporadis. Pola edukasi dan gerakan yang hanya terjadi sesekali ini terbukti tidak efektif, terbukti dengan banyak rekan seumuran saya yang tidak peduli terhadap lingkungan dan sampah.
Mengamati era 90-an, terdapat gerakan pembuatan lubang sampah di setiap keluarga. Saat itu, kepala lingkungan sangat aktif mensosialisasikan program tersebut.
Meskipun program ini dijalankan dengan gencar, nyatanya tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan karakter masyarakat dalam cara pandang terhadap lingkungan dan sampah. Sampah masih berserakan, dan limbah domestik tetap mencemari lingkungan.
Kembali ke masa sekarang, di lingkungan tempat tinggal saya, ada program menjaga lingkungan dari limbah domestik dengan bank sampah.
Polanya dengan pengambilan sampah daur ulang dari setiap rumah warga, sayangnya, program ini harus terhenti, dan dampaknya terhadap karakter warga terhadap lingkungan dan sampah tidak signifikan.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, sebanyak apapun upaya "pandawara" dalam mengatasi sampah, pencemaran lingkungan oleh sampah tetap akan berlanjut dari masa ke masa, bahkan semakin menjadi kekhawatiran.
Orang tidak lagi sungkan untuk membuang sampah sembarangan karena seakan-akan tidak ada norma yang membuat mereka malu untuk melakukannya.
Belum terbentuk budaya malu terhadap membuang sampah sembarangan dan budaya malu membuat lingkungan tercemar. Oleh karena itu, tidak heran jika seluruh negeri tidak peduli terhadap masalah sampah.
Ini bukanlah sekadar bualan, melainkan fakta yang dikutip dari binus.ac.id yang merujuk pada berita dari The Asean Post, menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara pemroduksi sampah terbesar kedua di dunia setelah Cina.
Bila kita membandingkan besaran wilayah dan penduduk antara Indonesia dan Cina, rasanya terlalu berlebihan jika kita menjadi peringkat kedua setelah Cina. Mungkin, seperti yang diungkapkan dengan satir, membuang sampah adalah kearifan lokal masyarakat kita.
Akar dari budaya ini terletak pada keluarga yang juga tidak peduli terhadap etika terhadap lingkungan dan penanganan sampah yang baik. Oleh karena itu, tidak heran jika akhirnya tidak ada rasa malu untuk membuang sampah sembarangan, dan tidak ada rasa sungkan ketika mencemari lingkungan.
Keluarga menjadi faktor yang sangat penting untuk melindungi Indonesia dari permasalahan sampah. Kebiasaan-kebiasaan terkait etika terhadap lingkungan dan penanganan sampah harus diajarkan dan dibentuk sejak dini pada generasi-generasi yang baru dilahirkan, dan tentu saja harus konsisten seiring dengan perkembangan mereka sebagai manusia.
Tidak lagi ada pembuangan sampah dari mobil atau motor, tidak lagi ada pembuangan sampah sembarangan, dan tidak lagi mencampurkan sampah organik dan anorganik.
Semuanya dilakukan melalui pendidikan di dalam keluarga, di mana peran ayah, ibu, dan orang dewasa lainnya wajib membawa kebiasaan-kebiasaan baik ini untuk menjaga lingkungan dari limbah domestik.
Kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang akan tertanam menjadi karakter atau watak. Dan jika setiap keluarga telah memiliki karakter beretika terhadap lingkungan dan memahami cara menjaga lingkungan dari limbah domestik, potensi terbentuknya sebuah budaya beretika terhadap lingkungan akan semakin besar.
Sebab budaya sejati berasal dari kesepakatan bersama dari karakter yang sama, yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Atomic Habits
Solusi dari mengubah budaya buruk tersebut adalah dengan menjalankan sebuah kebiasaan-kebiasaan peduli lingkungan dan sampah dari lingkungan keluarga
Saya ingin menekankan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk mengubah fakta bahwa Indonesia adalah negara pemroduksi sampah terbesar kedua di dunia menjadi negara yang bebas sampah.
Di tengah peradaban dan kebudayaan kita saat ini yang tidak peduli dengan lingkungan dan sampah, mimpi Indonesia menjadi negara yang bebas dari sampah, layaknya sebuah mimpi bagai pungguk merindukan rembulan, tidak akan mungkin.
Kita bisa melihat bagaimana sungai-sungai yang tercemar, pasar-pasar yang penuh sampah, sekolah-sekolah yang juga masih banyak sampah, dan juga rumah tangga yang justru menjadi penyumbang sampah dan pencemaran.
Ini menjadi sebuah indikator bahwa budaya kepedulian terhadap lingkungan dan masalah sampah masih sangat minim. Sayangnya, budaya ini tidak hanya menyentuh level rumah tangga dengan kategori menengah ke bawah, tetapi juga pada level rumah tangga ke atas yang seharusnya melek terhadap literasi masalah lingkungan dan sampah.
Indonesia sudah akut dalam ketidakpedulian publik terhadap masalah lingkungan dan sampah. Oleh karena itu, pada opini kali ini, izinkan saya menawarkan sebuah konsep solusi tentang bagaimana langkah menjaga lingkungan dari limbah domestik dengan mencoba menekankan bahwa permasalahan yang ada adalah pada budaya masyarakat Indonesia yang tidak begitu peduli dengan lingkungan dan sampah.
Solusi dari mengubah budaya buruk tersebut adalah dengan menjalankan sebuah kebiasaan-kebiasaan peduli lingkungan dan sampah dari lingkungan keluarga.
Konsistensi dari kebiasaan-kebiasaan ini lah yang akan mengubah Indonesia menjadi Indonesia sehat dan bersih. Saya terpukau dengan teori Atomic Habits, sebuah teori yang ditulis oleh James Clear pada bukunya "Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Habits" (2018).
Atomic habits dijelaskan sebagai rangkaian proses membangun kebiasaan-kebiasaan secara konsisten untuk memperoleh 1% peningkatan diri setiap hari dan secara bertahap membentuk perubahan hidup yang besar, sebagaimana dikutip dari popbela.com.
Saya menggunakan konsep konsistensi keluarga pada kepedulian lingkungan dan sampah sebagai atomic habits. Kebiasaan-kebiasaan kecil dalam keluarga yang akan membentuk sebuah budaya bagi bangsa.
Sebagaimana atom adalah penyusun terkecil sebuah materi, keluarga adalah unit terkecil penyusun sebuah bangsa. Kebiasaan-kebiasaan ringan tentang kepedulian terhadap lingkungan dan sampah yang diajarkan di dalam keluarga, seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah serta memisahkan sampah organik dan anorganik, akan membentuk sebuah generasi yang peduli tentang lingkungan dan sampah di masa yang akan datang.
Saya sudah memulainya dengan keluarga saya di rumah, mengajarkan anak dan istri saya untuk memasukkan sampah sesuai dengan kategori.
Memasukkan sampah yang berasal dari bahan-bahan hayati ke dalam wadah sampah organik dan memasukkan sampah yang terbuat dari bahan sintetis ke dalam wadah sampah anorganik.
Sampah dari bahan-bahan hayati biasanya kami tempatkan kembali ke tanah sebagai pupuk setelah sebelumnya kami biarkan sampai organisme pengurai seperti maggot ada di dalam wadah.
Selain itu, saya juga selalu melarang keras anak-anak agar tidak membuang sampah sembarangan, seperti membuang sampah melalui kaca mobil, membuang sampah saat berkendara roda dua, atau membuang plastik bekas di pekarangan kami.
Saya selalu menekankan bahwa saat jajan di manapun dan tidak menemukan tempat sampah, lebih baik membawa pulang sampah dan membuangnya saat sudah berada di rumah.
Kami juga menerapkan konsep daur ulang limbah cair di rumah, dengan menyediakan lahan khusus layaknya biopori sebagai tempat penampungan dan serapan limbah cair dari keluarga kami.
Saya pikir, tidak berat untuk melakukan hal-hal yang terbilang sederhana demikian. Yang membuatnya berat adalah ketiadaan kepedulian untuk menjaga lingkungan.
Mari kita peduli dan mulai melakukan perubahan dengan memulainya dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang akan berdampak besar pada lingkungan hidup, sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang lestari!
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Atomic Habits untuk Indonesia Lestari".
Kreator: Junjung Widagdo
Tulis Komentar