08117992581

Bentuk Karakter Siswa, SD Negeri 7 Metro Utara Gelar Parenting Fase B

$rows[judul]

Kota Metro, A1BOS.COM - Dalam rangka menanggulangi dampak-dampak negatif digitalisasi, SD Negeri 7 Metro Utara gandeng LPAI Kota Metro melaksanakan komunikasi dengan wali siswa melalui parenting fase B di aula setempat, Sabtu (16/11/2024).

Hal tersebut guna mewujudkan peran orang tua dalam pengembangan karakter peserta didik terhadap pengaruh media digital. 

Dikatakan Kepala Sekolah SD Negeri 7 Metro Utara, Susilowati, S.Pd., bahwa dirinya telah memprogramkan kegiatan serupa dari fase A, B dan fase C

"Dari penyampaian narasumber itu luar biasa memberikan ilmu-ilmu yang betul-betul bermanfaat bagi kami, terutama kepada orang tua wali murid kami dan mudah-mudahan ini semua dapat memberikan dampak yang baik untuk kegiatan kami di Sekolah SD Negeri 7 Metro Utara," ujarnya. 


Ia menuturkan, pada parenting tersebut dirinya memberikan edukasi kepada para pendidik dan wali siswa. 

"Sehingga kita berkesempatan jika ada permasalahan di sekolah kami perlu menyampaikan ke wali murid, kemudian ketika anak sudah menjadi tanggungjawab orang tua di rumah dan mereka akan menyampaikan kami juga akan terbuka, kita bersama-sama mengembangkan karakter peserta didik," tuturnya. 

"Saya berharap kegiatan ini betul-betul terlaksana dengan baik dan nantinya akan berkelanjutan karena nantinya di fase C akan lebih mengena lagi," sambungnya. 

Hal serupa dikatakan Ketua Komisi Kajian dan Analisis Standar Pelayanan Hak Anak, Gatot Subroto, S.H., bahwa belajar parenting menjadi sesuatu yang sangat penting. 

"Menjadi tauladan yang baik, anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua baik atau buruk. Oleh karena itu orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak, mulai dari tutur kata, sikap hingga perilaku, termasuk moralitasnya," ungkapnya. 


Ia menuturkan, mengajarkan nilai religius kepada anak menjadi poin penting berikutnya dalam membentuk karakter anak. 

"Nilai-nilai keagamaan merupakan pondasi yang penting untuk membangun karakter anak yang kokoh, agama mengajarkan berbagai nilai luhur seperti sopan santun, kejujuran, keadilan, kesederhanaan saling menghormati dan toleransi," paparnya. 

Lebih lanjut Gatot menyampaikan, bahwa orang tua juga wajib memberikan pujian atas usaha yang sudah dilakukan oleh anak. 

"Tidak harus menggunakan uang, memberikan pujian melalui ucapan kepada anak dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri, harga diri dan sikap tekun kepada mereka," ucapnya. 

Pihaknya juga menjelaskan, bahwa orang tua diharuskan menghindari anak terjadi trauma fisik dan psikis. 

"Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan trauma pada anak beberapa diantaranya seperti kematian orang terdekat, kecelakaan, di bully oleh teman-teman sebayanya di sekolah atau di lingkungan rumah, pertengkaran orang tua, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, bencana alam dan lain-lain," beber Gatot Subroto. 


"Kasih sayang yang diberikan kepada anak dapat membuat anak belajar tentang kepuasan dalam memberi dan menerima, anak yang menerima banyak cinta juga akan memberikan banyak cinta kepada orang-orang di sekitarnya," imbuhnya. 

Gatot memaparkan, bahwa orang tua wajib memberikan pembelajaran akan tanggung jawab kepada anak-anaknya. 

"Anak yang memiliki rasa tanggung jawab biasanya lebih mandiri. Selain itu mereka dapat menjadi pribadi yang tidak mudah menyalahkan orang lain ketika dirinya salah, yang paling penting adalah sikap tanggung jawab dapat membuat anak lebih hati-hati dan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu," jelasnya. 

Selanjutnya Gatot menambahkan, dampak positif dari perkembangan teknologi dapat membantu anak memperluas pengetahuan serta meningkatkan kemampuan kognitif. 

"Penggunaan media digital yang berlebihan dapat berdampak negatif pada perkembangan karakter anak seperti kurang bersosialisasi, tidak memahami sopan santun, terisolasi dari lingkungan sosial, emosional dan pemberontak, malas mengerjakan kegiatan sehari-hari, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, terpapar konten yang berbahaya, mengganggu perkembangan anak, dan dapat menurunkan keterampilan anak dalam memecahkan masalah," pungkasnya. (Aliando)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)