Kota Metro, A1BOS.COM - Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang
(PUTR) Kota Metro mengungkap adanya potensi penurunan anggaran perbaikan
infrastruktur pada tahun 2026.
Situasi ini berdampak munculnya kekhawatiran bahwa tidak
semua usulan masyarakat yang telah dihimpun melalui musyawarah perencanaan
pembangunan (Musrenbang) dapat direalisasikan secara menyeluruh.
Kepala Dinas PUTR Kota Metro Ardah menyampaikan bahwa
seluruh aspirasi masyarakat telah dicatat dan diinventarisasi. Namun, realisasi
tetap sangat bergantung pada kemampuan keuangan daerah.
"Ya untuk 2026 sesuai dengan usulan masyarakat sudah
kita catat. Mudah-mudahan saja apa yang mereka harapkan dan menyesuaikan dengan
anggaran bisa kita realisasikan," kata Ardah, saat dikonfirmasi awak media
usai Musrenbang di Metro Selatan, Selasa (06/01/2026) lalu.
Ia menegaskan pada prinsipnya seluruh usulan warga akan
diupayakan. Namun, kondisi fiskal menjadi faktor penentu yang tidak bisa
dihindari.
"Harapan kita begitu semua mana yang diusulkan akan
kita upayakan," tambahnya.
Ketika ditanya soal kemungkinan pemangkasan anggaran
perbaikan infrastruktur pada 2026, Ardah tidak menampik adanya ketidakpastian.
Menurutnya pihak PUTR hanya bertugas mengusulkan sementara
keputusan akhir berada di ranah penganggaran dan Kebijakan Walikota.
Namun, saat didesak mengenai potensi pengurangan anggaran
Ardah mengakui hal itu sangat mungkin terjadi.
"Ya itu bisa jadi ada menyesuaikan dengan anggaran.
Kalau anggarannya memang berkurang," katanya.
Pengakuan ini menjadi sinyal bahwa sektor infrastruktur
yang selama ini menjadi tulang punggung pelayanan publik bisa ikut terdampak
kebijakan efisiensi atau pengetatan fiskal.
Ia juga menyebut bahwa dalam beberapa kondisi sebelumnya
pengurangan anggaran bisa mencapai kisaran 30 persen. Angka ini tentu bukan
jumlah kecil mengingat kebutuhan perbaikan jalan, drainase dan fasilitas publik
lainnya di Metro masih tergolong tinggi.
"Kalau soal persentase kadang-kadang kan kalau yang
sekarang sudah ada memang berkurang sekitar 30-an persen. Untuk lebih pastinya
kita lihat sambil berjalan dan kadang-kadang banyak perubahan-perubahan,"
jelasnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa perencanaan infrastruktur
dihadapkan pada dinamika anggaran yang tidak stabil. Akibatnya proyek-proyek
yang sudah dirancang bisa saja tertunda diperkecil skalanya atau bahkan
dibatalkan.
Dalam kondisi anggaran yang berpotensi menyusut PUTR
mengaku akan menerapkan strategi prioritas. Ardah menegaskan pihaknya akan
lebih selektif dalam menentukan proyek mana yang harus dikerjakan lebih dahulu.
"Kalau strategi ya kita pasti terus berinovasi. Karena
bagaimanapun juga yang diusulkan masyarakat itu pasti memang sesuai kebutuhan
mereka," ujarnya.
Ia menyebut fokus utama akan diberikan pada infrastruktur
yang tingkat kerusakannya paling parah dan berdampak langsung pada aktivitas
masyarakat.
"Ya nanti sambil berjalan kita cek apa kebutuhan
mereka nanti kita seimbangkan. Yang sudah pasti kita prioritaskan kerusakan
yang paling berat," tegasnya.
Potensi pemangkasan anggaran ini menyisakan pekerjaan rumah
besar bagi Pemkot Metro. Jika tidak dikelola dengan transparan dan akuntabel,
kebijakan prioritas justru bisa memicu kecemburuan antar wilayah terutama bagi
warga yang usulannya belum terakomodasi.
Di sisi lain kondisi ini juga menguji komitmen pemerintah
dalam menjadikan aspirasi masyarakat sebagai dasar pembangunan. Sebab usulan
yang telah dihimpun melalui Musrenbang kerap dianggap sebagai janji moral
kepada warga.
Dengan sinyal pengurangan anggaran ini publik kini menunggu
kejelasan apakah pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas utama atau
justru akan tergerus oleh kepentingan sektor lain.
Yang jelas tahun 2026 tampaknya akan menjadi tahun penuh tantangan bagi sektor infrastruktur Kota Metro di tengah harapan besar masyarakat akan jalan mulus terang benderang dan bebas banjir namun dibayangi oleh realitas fiskal yang semakin ketat.
(Taklika)
Tulis Komentar