08117992581

Wagub Lampung Kunjungi Anak Umur 6 Tahun Yang Dirantai Ibunya Di Mesuji

$rows[judul]

Mesuji, A1BOS.COM - Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengunjungi salah satu rumah warga dari keluarga pra-sejahtera di kawasan Register 45, Pemukiman Karya Jaya, Sungai Buaya, Kabupaten Mesuji, Senin (20/10/2025).

Keluarga tersebut tengah menghadapi persoalan hukum setelah sang ibu dilaporkan karena mengikat anaknya dengan rantai dan meninggalkannya sendirian di rumah. Namun di balik tindakan yang tampak kejam itu, tersimpan kisah panjang tentang kemiskinan, keputusasaan, dan cinta seorang ibu.

“Kita tidak bisa melihat kasus ini hanya dari sisi hukum. Ada aspek lain yang sangat kompleks, kesehatan, psikologis, dan ekonomi,” ujar Jihan, Senin (20/10/2025).

Keluarga ini memiliki dua anak, S (6) dan T (2). Sang ayah bekerja sebagai buruh tani harian lepas, sementara sang ibu setiap bulan harus membawa T menjalani pemeriksaan rutin karena penyakit jantung bawaan dan labiopalatoskizis (bibir sumbing). Kondisi itu membuat T juga mengalami stunting.

Karena keterbatasan ekonomi, sang ibu hanya memiliki satu sepeda motor tua untuk bepergian. Saat harus membawa T berobat, ia terpaksa meninggalkan S di rumah. Agar S tidak bermain ke sungai atau jalan raya, sesuatu yang pernah terjadi, ia mengikat anaknya dengan rantai, dari situlah masalah bermula.

“Ini tetap salah, tapi kita juga harus memahami latar belakangnya. Ibu ini tidak punya pilihan lain,” kata Jihan lirih.

Pemerintah Provinsi Lampung bersama Pemerintah Kabupaten Mesuji kini memberikan pendampingan intensif bagi keluarga ini. Tim dari dinas sosial, tenaga kesehatan, dan psikolog diterjunkan untuk menilai kondisi keluarga, termasuk rencana operasi bagi T.

“Besok dokter akan menjemput mereka untuk pemeriksaan lanjutan dan persiapan tindakan medis,” tutur Jihan.

Ia menekankan, penanganan tidak boleh hanya berfokus pada satu aspek. Semua persoalan dari kesehatan, pendidikan anak, hingga kesulitan ekonomi harus diselesaikan secara menyeluruh.

“Kita tidak bisa hanya menyelesaikan satu masalah dan mengabaikan yang lain. Semua saling terkait. Inilah wajah kemiskinan yang perlu kita tangani dengan empati,” ujarnya. (JJ)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)