Kota Metro, A1BOS.COM - Revitalisasi sekolah akhirnya tidak
lagi sekadar jargon kebijakan. Tahun 2026 menjadi titik balik bagi wajah
pendidikan dasar dan menengah di Kota Metro setelah 45 satuan pendidikan yang
terdiri dari 30 SD dan 15 SMP resmi masuk daftar penguatan sarana dan prasarana
(sarpras) melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Bagi Pemerintah Kota Metro program ini bukan semata proyek
fisik melainkan upaya mengembalikan martabat ruang belajar tempat anak-anak
seharusnya merasa aman, sehat, dan fokus menimba ilmu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro, Dr. Agus Septiana menegaskan bahwa penentuan sekolah prioritas tahap pertama dilakukan dengan indikator objektif bukan pertimbangan non-teknis.
“Presentase kerusakan yang tercatat dalam aplikasi
revitalisasi yang bersumber dari Dapodik menjadi dasar utama. Data ini diinput langsung
oleh satuan pendidikan, diverifikasi, dan menjadi rujukan penentuan prioritas,”
kata Agus, saat dikonfirmasi awak media, Rabu (07/01/2026).
Dengan pendekatan tersebut Dinas Pendidikan berupaya
memastikan sekolah dengan kerusakan terberat tidak tersisih oleh faktor
kedekatan, tekanan, atau lobi, sebuah praktik yang kerap menjadi stigma dalam
program pembangunan sektor publik.
Dari 45 sekolah yang diusulkan lima SD dengan tingkat
kebutuhan paling mendesak ditetapkan sebagai tahap pertama revitalisasi 2026.
Mereka dipilih karena kerusakan ruang belajar, sanitasi, dan fasilitas
pendukungnya berada pada level yang langsung berdampak pada keselamatan dan
kenyamanan siswa.
Data internal Dinas Pendidikan menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan
hampir setengah ruang kelas SD di Metro masuk kategori rusak.
Pertanyaan pun muncul tentang mengapa kondisi ini baru
didorong melalui revitalisasi besar pada 2026. Agus tidak menampik adanya persoalan
perencanaan di masa lalu.
“Sebelum 2026 kualitas data usulan dan kesesuaian dengan Dapodik
belum memadai. Akibatnya banyak kerusakan tidak tergambar utuh dalam sistem
nasional,” ujarnya.
Evaluasi itu mendorong perubahan serius. Sejak 2025 Dinas
Pendidikan mulai melakukan pembinaan intensif kepada operator dapodik sekolah
agar data kondisi sarpras benar-benar mencerminkan fakta lapangan. Langkah ini
menjadi krusial karena dalam sistem digital Kemendikdasmen data adalah pintu
masuk utama bantuan.
Revitalisasi Metro 2026 juga menempatkan toilet dan sanitasi
sebagai prioritas utama sebuah pengakuan jujur atas persoalan mendasar yang
selama ini kerap dianggap sepele. Menurut Agus kondisi sanitasi sekolah negeri
masih jauh dari ideal.
“Keterbatasan anggaran BOS dan APBD membuat pemeliharaan
toilet tidak maksimal. Ditambah lagi perilaku siswa yang merusak fasilitas
sehingga sanitasi cepat kembali rusak,” katanya.
Namun Pemkot Metro membaca persoalan ini lebih dalam.
Toilet bukan sekadar bangunan pelengkap melainkan penentu kesehatan,
kenyamanan, dan rasa hormat terhadap peserta didik. Tanpa sanitasi layak
sekolah kehilangan wajah kemanusiaannya.
Pembangunan laboratorium komputer juga masuk dalam menu
revitalisasi. Namun kritik lama kembali mengemuka tentang banyak lab berdiri
tanpa perangkat listrik tak memadai, atau guru yang siap mengajar. Dinas
Pendidikan menyatakan pembelajaran dari pengalaman sebelumnya.
“Kami melakukan monitoring dan pembinaan agar laboratorium
benar-benar berfungsi untuk pembelajaran bukan sekadar ruang fisik,” tegas
Agus.
Revitalisasi 2026 diharapkan menjadi lompatan nyata di mana
lab komputer bukan hanya simbol modernisasi tetapi ruang hidup untuk literasi
digital siswa.
Program revitalisasi kedepannya akan dijalankan dengan
skema swakelola dan penyaluran dana langsung ke sekolah. Skema ini membuka
ruang partisipasi masyarakat namun sekaligus menuntut pengawasan ketat. Dinas
Pendidikan menyiapkan mekanisme pengawalan bersama berbagai pihak.
“Monitoring dan pemantauan dilakukan bersama stakeholder, kejaksaan,
fasilitator, konsultan perencana, dan sekolah,” jelas Agus.
Pengawasan ini penting mengingat total 410 komponen
pekerjaan diusulkan terdiri dari 329 rehabilitasi dan 81 pembangunan angka yang
rawan disalahgunakan bila tanpa kontrol ketat.
Tahap pertama revitalisasi menyasar lima SD dengan paket
pekerjaan besar dan menyentuh kebutuhan paling dasar. Pertama ialah UPTD SD
Negeri 1 Metro Selatan dengan rehabilitasi 13 komponen fokus ruang kelas dan toilet.
Kedua, SD Kristen 1 Metro dengan rehabilitasi 12 komponen dan pembangunan
laboratorium komputer.
Ketiga, SD Pertiwi Teladan dengan rehabilitasi 16 komponen
dan pembangunan kantin. Keempat, UPTD SD Negeri 2 Metro Timur dengan paket
terbesar yaitu 18 rehabilitasi, pembangunan lab komputer, kantin, dan tiga
ruang kelas baru. Terakhir, UPTD SD Negeri 12 Metro Pusat dengan rehabilitasi
14 komponen dan pembangunan lab komputer serta kantin.
Lima sekolah ini menjadi etalase awal keseriusan Metro
dalam membangun ruang kelas aman, toilet layak, UKS berfungsi, perpustakaan
hidup, dan fasilitas penunjang hadir nyata.
Wakil Walikota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana menegaskan revitalisasi
bukan tujuan akhir melainkan alat untuk menciptakan rasa aman.
“Ukuran suksesnya sederhana. Anak masuk kelas tanpa takut
guru mengajar tanpa cemas dan orang tua percaya sekolah itu aman,” ujarnya.
Baginya revitalisasi harus berakhir pada pengalaman konkret
dimana anak datang ke sekolah dengan tenang, belajar tanpa khawatir, dan pulang
dengan gembira.
Revitalisasi 45 sekolah di Metro bukan sekadar deretan angka dan paket pekerjaan. Ia adalah pengakuan jujur atas ketertinggalan sekaligus janji perbaikan yang diawasi bersama.
"Jika dijalankan dengan disiplin data, pengawasan terbuka, dan keberanian menempatkan kebutuhan paling dasar sebagai prioritas, maka 2026 bisa menjadi tahun ketika sekolah-sekolah di Metro kembali menjadi ruang yang layak disebut tempat belajar bukan sekadar tempat hadir. Dan di sanalah mutu pendidikan sesungguhnya bermula," tandas Rafieq.
(Taklika)
Tulis Komentar