08117992581

Taksi Listrik Segera Beroperasi di Lampung, Buka Lowongan Sopir Bergaji Rp.5 Juta-Rp.12 Juta

$rows[judul]

Bandar Lampung, A1BOS.COM - Pemerintah Provinsi Lampung mendorong hadirnya layanan taksi berbasis listrik. Taksi listrik disebut sebagai upaya menekan polusi sekaligus membangun ekosistem transportasi ramah lingkungan. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan kebutuhan pelayanan transportasi di Bandar Lampung dan daerah sekitarnya terus meningkat. Karena itu pemerintah mulai membuka ruang bagi investasi kendaraan listrik.

“Kita ingin ke depan mengurangi tingkat polusi dan menjaga lingkungan. Maka investor taksi hijau berbasis listrik kita hadirkan di Provinsi Lampung,” kata Rahmat Mirzani Djausal seusai rapat percepatan pembentukan ekosistem kendaraan listrik dan aksebilitas charging station di Provinsi Lampung, Selasa (13/01/2026).

Ia mengungkapkan saat ini kendaraan taksi di Lampung diperkirakan mencapai 4.000 unit. Namun, seluruhnya masih taksi konvensional. Ke depan, lanjutnya pemerintah akan berinovasi mengembangkan taksi online berbasis kendaraan listrik dengan tujuan bebas polusi dan mendukung energi hijau.

“Belum ada yang listrik masih konvensional semua. Karena itu kita dorong agar energi hijau bisa terimplementasi dengan baik di Provinsi Lampung,” ujar Mirza.

Terkait Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) saat ini di Lampung telah tersedia 44 lokasi.

“Target kita pada 2026 ini dibangun 101 SPKLU baik dari PLN maupun swasta,” jelasnya.

Dengan adanya taksi online listrik ini diharapkan dapat menambah lapangan kerja baru.

“Rekrutmen drivernya nanti dengan syarat masyarakat ber-KTP Lampung dengan kategori Desil 1–5 termasuk driver perempuan 30 persen," kata Mirza.

Disinggung terkait kendaraan dinas apakah akan beralih ke listrik ia memastikan kehadiran taksi listrik ini bukan untuk kendaraan dinas. Namun pemerintah daerah melalui badan usaha milik daerah (BUMD) akan dilibatkan.

“Enggak (bukan jadi kendaraan dinas). Yang penting yang jelas BUMD-nya dapat saham,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Green SM Deny mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan riset terkait penentuan tarif di Lampung.

“Kami masih fokus pada persiapan pendaftaran registrasi secara legalitas taksi Green SM di Bandar Lampung,” katanya.

Ia mengungkapkan saat ini Green SM belum beroperasi di Lampung. Jika terealisasi Bandar Lampung akan menjadi kota keempat yang meluncurkan layanan tersebut dan menjadi kota pertama di Pulau Sumatera.

“Insya Allah target launching di bulan Ramadan. Secara tarif akan menyesuaikan kondisi perekonomian dan kompetitor di masing-masing kota,” jelasnya.

Pada tahap awal Green SM menyiapkan 400 unit kendaraan yang akan dioperasikan di Bandar Lampung. Terkait kesejahteraan pengemudi Deny menyebutkan pendapatan driver berkisar Rp.5 juta hingga Rp.12 juta per bulan.

Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung Febrizal Levi Sukmana. Ia menilai kehadiran taksi listrik berpotensi mendukung pariwisata dan perekonomian daerah. Menurut Febrizal penggunaan kendaraan listrik membuat biaya operasional lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.

“Kalau dihitung, biaya kendaraan listrik sekitar Rp.400–600 per kilometer. Sementara kendaraan berbahan bakar fosil bisa mencapai Rp.1.200–1.500 per kilometer,” ujar Febrizal.

Ia menyebut operasional taksi listrik akan difokuskan di wilayah dengan aktivitas tinggi seperti Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, dan Metro yang dinilai strategis untuk mendukung mobilitas masyarakat dan sektor pariwisata.

Febrizal menambahkan layanan ini juga membuka peluang lapangan pekerjaan baru serta mendorong pengembangan infrastruktur pendukung melalui keterlibatan BUMD termasuk pembangunan SPKLU. Saat ini jumlah SPKLU di Lampung masih terbatas. Dari sekitar 44 unit yang ada sebanyak 40 unit dikelola PLN dan sisanya oleh pihak swasta.

“Ke depan jumlahnya akan bertambah seiring meningkatnya kebutuhan, meski minat masyarakat terhadap kendaraan listrik masih relatif rendah,” katanya.

Ia menyebut salah satu keraguan masyarakat terkait nilai jual kembali dan usia baterai kendaraan listrik. Namun berdasarkan sejumlah kajian kendaraan listrik lebih efisien dalam jangka panjang.

“Jika digunakan hingga 10 tahun atau sekitar 150 ribu kilometer secara perhitungan kendaraan listrik lebih hemat. Pada akhirnya pilihan kembali ke masyarakat,” pungkas Febrizal.

(Taklika)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)